Seharian di Balik Layar Event dan Sebuah Pelajaran Berharga
Sudah tiga minggu saya menunggu hari ini. Event yang kami rancang sejak awal bulan akhirnya sampai juga di titik pelaksanaan. Sejak subuh saya sudah bangun, bukan karena alarm, tapi karena kepala sudah penuh dengan daftar hal yang harus dicek ulang. Rundown, daftar peserta, konfirmasi vendor, semuanya berputar di kepala bahkan sebelum saya sempat menyeduh kopi pertama.
Begitu sampai di lokasi, HP di tangan saya nyaris tidak pernah berhenti menyala. Grup WhatsApp tim ramai sejak pagi. Ada yang menanyakan posisi banner, ada yang mengabarkan MC datang terlambat lima belas menit, ada juga yang mengirim revisi terakhir untuk slide presentasi. Saya membalas satu per satu sambil sesekali membuka laptop untuk memastikan rundown yang sudah disusun berminggu-minggu itu tidak berubah drastis di menit terakhir.
Bagi siapa pun yang pernah mengurus event, momen seperti ini pasti familiar. Semua terasa mendebarkan sekaligus melelahkan. Tapi di balik semua kelelahan itu, ada rasa bangga yang sulit dijelaskan. Melihat sesuatu yang awalnya cuma coretan di notes HP, perlahan berubah jadi acara nyata dengan orang-orang yang hadir dan terlibat, rasanya seperti menyaksikan cerita sendiri jadi kenyataan.
Ketika Mata Mulai Sepet, Perih, dan Lelah
Sepanjang pagi sampai siang, mata saya nyaris tidak pernah lepas dari layar. Mengecek pesan masuk, membuka spreadsheet daftar peserta, melihat hasil dokumentasi dari tim foto, sampai memastikan slide presentasi tampil sempurna di layar utama. Semua itu dilakukan bergantian antara layar HP dan laptop, kadang tanpa jeda sama sekali. Saya bahkan tidak sadar sudah berapa jam mata ini terus bekerja tanpa istirahat.
Ketika acara akhirnya dimulai, saya merasa lega. Tapi tidak lama setelah itu, saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Mata saya terasa sepet, sedikit perih, dan lelah. Awalnya saya kira itu cuma rasa kantuk biasa karena bangun terlalu pagi. Saya coba abaikan dan tetap fokus mengurus jalannya acara.
Namun rasa tidak nyaman itu justru semakin terasa. Saya beberapa kali harus membaca ulang rundown karena tulisan di layar terasa buram sesaat. Pesan dari tim yang biasanya bisa saya baca sekali lihat, kali ini harus saya baca dua kali supaya benar-benar paham. Untuk memastikan satu detail kecil di slide presentasi saja, saya perlu melihat layar lebih lama dari biasanya. Konsentrasi saya perlahan terganggu, padahal acara sedang berada di momen penting.
Ada satu kejadian yang membuat saya benar-benar sadar. Saat sesi tanya jawab berlangsung, saya hampir salah membaca pertanyaan dari peserta yang dikirim lewat chat panitia. Mata saya terasa berat, dan untuk sesaat fokus saya buyar. Saya harus berhenti sebentar, mengalihkan pandangan dari layar, baru bisa membaca ulang dengan benar. Saat itu saya berpikir, selama ini saya menganggap rasa sepet, perih, dan lelah di mata sebagai hal biasa yang akan hilang sendiri. Ternyata di tengah momen yang menuntut fokus tinggi seperti event, gejala mata kering seperti itu justru bisa memengaruhi banyak hal, mulai dari konsentrasi sampai kelancaran komunikasi dengan tim.
Menemukan Kebiasaan Baru Setelah Belajar dari Sinyal Mata
Setelah acara selesai dan semua orang mulai berkemas, saya duduk sebentar di kursi belakang panggung. Baru di momen itu saya benar-benar merasakan betapa lelahnya mata saya seharian ini. Saya mulai berpikir, pekerjaan mengurus event memang menuntut fokus tinggi, tapi bukan berarti tubuh, terutama mata, harus terus dipaksa tanpa jeda.
Malam itu, sepulang dari lokasi acara, saya mulai mencari informasi tentang cara meredakan rasa tidak nyaman di mata setelah seharian menatap layar. Dari situ saya mengenal INSTO DRY EYES, yang digunakan untuk membantu meredakan gejala mata kering sesuai petunjuk penggunaan. Saya membaca lebih jauh tentang bagaimana produk ini bisa menjadi bagian dari kebiasaan menjaga kenyamanan mata, terutama untuk orang-orang yang aktivitasnya banyak bergantung pada layar HP dan laptop seperti saya.
Sejak saat itu, saya mulai membawa INSTO DRY EYES setiap kali harus mengurus event yang berdurasi panjang. Saat mata mulai terasa sepet atau perih di sela-sela kesibukan, saya tidak lagi menunggu sampai kondisinya semakin mengganggu. Saya memilih untuk Tetesin insto dry eyes sesuai petunjuk penggunaan, lalu memberi mata saya jeda sejenak dari layar sebelum kembali bekerja.
Selain itu, saya juga mulai mengubah beberapa kebiasaan kecil. Saya coba lebih sering berkedip saat menatap layar dalam waktu lama, sesekali mengalihkan pandangan ke arah lain, mengatur pencahayaan layar HP dan laptop, serta memastikan minum air yang cukup di sela kesibukan. Kebiasaan sederhana ini ternyata cukup membantu saya tetap nyaman menjalani hari yang padat tanpa harus mengorbankan kondisi mata.
Hari itu akhirnya selesai dengan lancar. Peserta pulang dengan senyum, tim terlihat puas dengan hasil kerja keras berminggu-minggu, dan acara berjalan sesuai rencana. Tapi bagi saya pribadi, ada satu hal lain yang saya bawa pulang selain rasa lega. Saya belajar bahwa kesuksesan sebuah acara bukan cuma soal rundown yang berjalan mulus, tapi juga soal bagaimana saya menjaga diri sendiri selama prosesnya, termasuk menjaga mata yang setiap hari bekerja keras tanpa banyak dikeluhkan.
Sekarang, setiap kali harus mengurus event seharian, saya tidak hanya membawa rundown, laptop, dan charger. Saya juga membawa kebiasaan untuk memberi waktu bagi mata beristirahat, dan tentu saja INSTO DRY EYES di dalam tas kerja saya. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa hal yang terasa SePeLe ternyata bisa memengaruhi banyak hal kalau terus dibiarkan, dan Mata SePeLe Jangan Disepelein akhirnya jadi prinsip yang selalu saya pegang. Karena ketika mata terasa nyaman, saya bisa lebih fokus menjalankan setiap detail acara sampai selesai, tanpa harus terganggu oleh sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Pengalaman itu juga membuat saya semakin memahami pentingnya pesan #InstoDryEyes, #BebasMataKering, dan #MataSePeLeJanganSepelein. Karena di balik semua kesibukan yang terlihat besar, kadang justru hal-hal kecil seperti sinyal dari mata sendiri yang paling mudah kita lewatkan.


.jpg)

Komentar
Posting Komentar